MAKALAH STRUKTUR SOSIAL
KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan yang maha Esa karena atas pimpinan-Nya
lah kita masih diberikan izin untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab
kita bersama. Dan kami dapat menyelesaikan makalah kami sebagai referensi pembelajaran.
Makalah kami ini yang berjudul “ Struktur Sosial “ bertujuan untuk menambah
wawasan dan ilmu pengetahuan baik yang ada di lingkungan sosial maupun dalam
kehidupan bermasyarakat.
Sebagai
penulis, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar pembuatan
makalah kami yang kedepannya dapat lebih baik.
Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR........................................................................................................ i
DAFTAR ISI...................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang........................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A.
Definisi Struktur Sosial...........................................................................................
B.
Ciri-ciri Struktur Sosial............................................................................................
C.
Fungsi Struktur Sosial.............................................................................................
D.
Bentuk Struktur Sosial............................................................................................
BAB III PENUTUP
A.
Simpulan..................................................................................................................
B. Saran........................................................................................................................
DAFTAR
PUSTAKA.........................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar
Belakang
Menurut August Comte sosiologi mengkaji mengkaji
masyarakat dari sisi social statics (statika social atau struktur social) dan
social dynamics (dinamika social atau perubahan social). Comte berpendapat
bahwa setiap masyarakat memiliki dua system kehidupan yang berbeda sebagaimana
yang dipelajari oleh sosiologi itu. Walaupun memiliki sisi yang berbeda,
keduanya menjadi system yang tak terpisahkan dari sebuah masyarakat secara
umum.
Social statics meliputi struktur social masyarakat
berupa kelompok dan lembaga-lembaga sosial, lapisan serta kekuasaan, sedangkan
sosial dinamics adalah fungsi-fungsi masyarakat yang terlibat dalam proses
social, perubahan social, atau bentuk abstrak interaksi social.
Suatu sistem sosial tidak hanya berupa kumpulan
individu tetapi juga berupa hubungan-hubungan sosial dan sosialisasi yang
membentuk nilai-nilai dan adat istiadat sehingga terjalin kesatuan hidup
bersama yang teratur dan berkesinambungan.
Struktur sosial adalah cara bagaimana suatu masyarakat
terorganisasi dalam hubungan-hubungan yang dapat diprediksikan melalui pola
perilaku berulang antar individu dan antar kelompok dalam masyarakat tersebut.
Struktur sosial dapat diartikan sebagai jalinan antara struktur-struktur sosial
yang pokok yaitu kaidah-kaidah / norma-norma sosial, lembaga-lembaga sosial dan
lapisan-lapisan sosial.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Struktur Sosial
Secara harfiah, struktur bisa diartikan sebagai
susunan atau bentuk. Struktur tidak harus dalam bentuk fisik, ada pula struktur
yang berkaitan dengan sosial. Menurut ilmu sosiologi, struktur sosial adalah
tatanan atau susunan sosial yang membentuk kelompok-kelompok sosial dalam
masyarakat. Susunannya bisa vertikal atau horizontal.
Para ahli
sosiologi merumuskan definisi struktur sosial sebagai berikut:
· George
Simmel: struktur sosial adalah kumpulan individu serta pola perilakunya.
· George
C. Homans: struktur sosial merupakan hal yang memiliki hubungan erat dengan
perilaku sosial dasar dalam kehidupan sehari-hari.
· William
Kornblum: struktur sosial adalah susunan yang dapat terjadi karena adanya
pengulangan pola perilaku undividu.
· Soerjono
Soekanto: struktur sosial adalah hubungan timbal balik antara posisi-posisi dan
peranan-peranan sosial.
B. Ciri-ciri
Struktur Sosial
1. Muncul
pada kelompok masyarakat
Struktur sosial hanya bisa muncul pada
individu-individu yang memiliki status dan peran. Status dan peranan
masing-masing individu hanya bisa terbaca ketika mereka berada dalam suatu
sebuah kelompok atau masyarakat.
Pada setiap sistem sosial terdapat macam-macam status
dan peran indvidu. Status yang berbeda-beda itu merupakan pencerminan hak dan
kewajiban yang berbeda pula.
2. Berkaitan
erat dengan kebudayaan
Kelompok masyarakat lama kelamaan akan membentuk suatu
kebudayaan. Setiap kebudayaan memiliki struktur sosialnya sendiri. Indonesia
mempunyai banyak daerah dengan kebudayaan yang beraneka ragam. Hal ini
menyebabkan beraneka ragam struktur sosial yang tumbuh dan berkembang di
Indonesia.
Hal-hal yang memengaruhi struktur sosial masyarakat
Indonesia adalah sbb:
a. Keadaan
geografis
Kondisi geografis terdiri dari pulau-pulau yang
terpisah. Masyarakatnya kemudian mengembangkan bahasa, perilaku, dan
ikatan-ikatan kebudayaan yang berbeda satu sama lain.
b. Mata
pencaharian
Masyarakat Indonesia memiliki mata pencaharian yang
beragam, antara lain sebagai petani, nelayan, ataupun sektor industri.
c. Pembangunan
Pembangunan dapat memengaruhi struktur sosial
masyarakat Indonesia. Misalnya pembangunan yang tidak merata antra daerah dapat
menciptakan kelompok masyarakat kaya dan miskin.
3. Dapat
berubah dan berkembang
Masyarakat tidak statis karena terdiri dari kumpulan
individu. Mereka bisa berubah dan berkembang sesuai dengan tuntutan zaman.
Karenanya, struktur yang dibentuk oleh mereka pun bisa berubah sesuai dengan
perkembangan zaman.
C. Fungsi
Struktur Sosial
1. Fungsi
Identitas
Struktur sosial berfungsi sebagai penegas identitas
yang dimiliki oleh sebuah kelompok. Kelompok yang anggotanya memiliki kesamaan
dalam latar belakang ras, sosial, dan budaya akan mengembangkan struktur
sosialnya sendiri sebagai pembeda dari kelompok lainnya.
2.
Fungsi Kontrol
Dalam kehidupan bermasyarakat, selalu muncul
kecenderungan dalam diri individu untuk melanggar norma, nilai, atau peraturan
lain yang berlaku dalam masyarakat. Bila individu tadi mengingat peranan dan
status yang dimilikinya dalam struktur sosial, kemungkinan individu tersebut
akan mengurungkan niatnya melanggar aturan. Pelanggaran aturan akan berpotensi
menibulkan konsekuensi yang pahit.
3. Fungsi
Pembelajaran
Individu belajar dari struktur sosial yang ada dalam
masyarakatnya. Hal ini dimungkinkan mengingat masyarakat merupakan salah satu
tempat berinteraksi. Banyak hal yang bisa dipelajari dari sebuah struktur
sosial masyarakat, mulai dari sikap, kebiasaan, kepercayaan dan kedisplinan.
D. Bentuk
Struktur Sosial
Bentuk struktur sosial terdiri dari stratifikasi
sosial dan diferensiasi sosial. Masing-masing punya ciri tersendiri.
1.kelompok
Sosial
kehidupan kelompok adalah sebuah naluri manusia sejak
ia dilahirkan. Naluri ini yang mendorongnya untuk selalu menyatukan
hidupnya dengan orang lain dalam kelompok. Naluri itu juga yang mendorong
manusia untuk menyatukan dirinya dengan dalam kelompok yang lebih besar dalam
kehidupan manusia lain di sekelilingnya bahkan mendorong manusia menyatu dengan
alam fisiknya. Untuk memenuhi naluri ini, maka setiap manusia saat
melakukan proses keterlibatannya engan orang dan lingkungannya, proses ini dinamakan
adaptasi. Adaptasi dengan kedua lingkungan tadi; manusia lain dan alam
sekitarnya itu, melahirkan struktur sosial baru yang disebut dengan kelompok
social.
Kelompok social adalah kehdupan bersama manusia dalam
himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang umumnya secara fisik relative
kecil yang hidup secara guyub. Ada juga beberapa kelompok social yang
dibentuk secara formal dan memiliki aturan-aturan yang jelas. Berdasarkan
struktur kelompok dan proses sosialnya, maka kelompok social dapat dibagi
menjadi beberapa karakter yang penting. Ada empat kelompok social yang dapat dibagi berdasarkan struktur
masing-masing kelompok.
1.
Kelompok
Formal-sekunder. Adalah kelompok sosial yang umumnya bersifat sekunder, formal,
memiliki aturan dan struktur yang tegas, serta dibentuk berdasarkan
tujuan-tujuan yang jelas pula. Kelompok ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a)
Adanya
kesadaran anggota bahwa ia adalah bagian dari kelompok yang bersangkutan.
b)
Setiap anggota
memiliki hubungan timbal balik dengan anggota lainnya dan bersedia melakukan
hubungan-hubungan fungsional diantara mereka.
c)
Setiap anggota
kelompok menyadari memiliki faktor-faktor kebersamaan diantara mereka, di mana
kebersamaan ini mendorong kohesifitas kelompok itu sendiri. Faktor-faktor
itu umpamanya kepentingan bersama, nasib yang sama, tujuan yang sama, ideologi
yang sama, primordialisme, memiliki ancaman yang sama, termasuk uga memiliki
harapan-harapan yang sama.
d)
Kelompok sosial
ini memiliki struktur yang jelas dan tegas, termasuk juga prosedur suksesi dan
kaderisasi.
e)
Memiliki aturan
formal yang mengikat setiap anggota kelompok dalam struktur yang ada termasuk
juga mengatur mekanisme struktur dan sebagainya.
f)
Anggota dalam
kelompok formal-sekunder memiliki pola dan pedoman perilaku sebagaimana diatur
oleh kelompok secara umum.
g)
Kelompok sosial
ini memiliki sistem kerja yang berpola, berstruktur, dan berproses dalam
mencapai tujuan-tujuan kelompok.
h)
Kelompok sosial
formal-sekunder memiliki kekuatan mempertahankan diri, mengubah diri
(adaptasi), rehabilitasi diri, serta kemampuan menyerang kelompok lain.
i)
Kelompok sosial
formal-sekunder memiliki masa (umur) hidup yang dikendalikan oleh faktor-faktor
internal dan eksternal.
2.
Kelompok
Formal-Primer. Adalah kelompok sosial yang umumnya bersifat formal namun
keberadaannya bersifat primer. Kelompok ini tidak memiliki aturan yang
jelas, walaupun tidak dijalankan secara tegas. Begitu juga kelompok
sosial ini memiliki struktur yang tegas walaupun fungsi-fungsi struktur ini
diimplementasikan secara guyub. Terbentuknya kelompok ini didasarkan oleh
tujuan-tujuan yang jelas ataupun tujuan yang abstrak. Contoh dari
kelompok formal primer adalah keluarga inti, kelompok kekerabatan dan
kelompok-kelompok primordial.
3.
Kelompok
Informal-Sekunder. Adalah kelompok sosial yang umumnya informal namun
keberadaannya bersifat sekunder. Kelompok ini bersifat tidak mengikat,
tidak memiliki aturan dan struktur yang tegas serta dibentuk berdasarkan
sesaat dan tidak mengikat bahkan bisa terbentuk walaupun memiliki
tujuan-tujuan yang kurang jelas. Contoh kelompok ini adalah klik,
kelompok persahabatan, kelompok anak muda (geng), kelompok percintaan
(pacaran), dan semacamnya.
4.
Kelompok
Informal-Primer. Adalah kelompok sosial yang terjadi akibat meleburnya
sifat-sifat kelompok sosial formal-primer atau disebabkan karena pembentukan
sifat-sifat di luar kelompok formal-primer yang tidak dapat ditampung oleh
kelompok formal-primer. Kelompok ini juga merupakan bentuk lain dari
kelompok informal-sekunder terutama menonjol di hubungan-hubungan mereka yang
sangat pribadi dan mendalam.
Ilustrasi dari kelompok ini
adalah sebagi berikut, suatu saat seorang polisi dari Surabaya yang baru lulus
sekolah polisi di Sukabumi dikirim bertugas di suatu daerah transmigran
di Lampung. Di sana ia bertugas bersama polisi lainnya yang juga baru
lulus sekolah polisi di Porong, Jawa Timur. Bersama polisi-polisi lainnya
mereka bertugas di tempat tugas yang baru itu. Hubungan-hubungan sosial
yang mereka bangun begitu mendasar, penuh dengan persaudaraaan, dan bahkan
dalam pernyataan-pernyataan mereka saling katakan bahwa mereka adalah saudara,
bahkan melebihi saudara. Dalam kenyataannnya juga demikian hubungan
sosial di antara anggota keluarga (istri dan anak-anak) meraka sangat akrab dan
intensif berhubungan satu dengan lainnya. Bahkan mereka saling bergantian
menjadi wali dari anak-anak mereka yang menikah dan sebagainya.
Hubungan-hubungan sosial macam ini terus berjalan sehingga anak-anak mereka
menjadi saudara sesusuan keluarga lainnya. Mereka telah menjadi keluarga
informal dan menjalani kehidupan kelompok macam itu sebagaimana kehidupan
sosial keluarga lainnya.
Selain
empat tipe kelompok sosial di atas, tipe lain dari kelompok sosial dapat pula
didasarkan atas jumlah (besar kecilnya jumlah anggota), wilayah (desa, kota,
negara), kepentingan (tetap atau permanen atau sementara), derajat interaksi
(erat atau kurang eratnya hubungan) atau kombinasi dari ukuran yang ada.
Pada umumnya kelompok sosial di atas adalah kelompok sosial yang teratur,
artinya mudah diamati dan memiliki struktur yang relatif jelas. Ada pula
kelompok sosial yang tidak teratur, artinya sulit diamati strukturnya dan
sifatnya sementara seperti kerumunan dan publik. Kerumunan (crowd)
merupakan kelompok manusia yang terbentuk secara kebetulan, tiba-tiba
(suddenly) dalam suatu tempat dan waktu yang sama karena kebetulan memiliki
pusat perhatian yang sama. Pada kerumunan, umumnya tidak ada interaksi
sosial di antara orang-orang, begitu juga di antara mereka tidak ada ikatan
sosial yang mendalam walaupun mungkin memiliki perasaan yang sama dengan orang
lain yang berada di tempat yang sama itu.
Sebagaimana kenyataannya, bahwa
manusia pada awalnya lahir dalam kelompok formal-primer yaitu keluarga, di mana
kelompok ini disebut sebagai salah satu dari jenis kelompok-kelompok kecil yang
paling berkesan bagi setiap individu. Isolasi kehidupan individu dalam
keluarga tak bertahan lama, karena seirama dengan perkembangan fisik,
intelektual, pengalaman dan kesempatan, individu mulai melepa hubungan-hubungan
keluarga dan memasuki dan menyebar untuk menjalankan berbagai kegiatannya dan
bertemu dengan manusia lain yang memiliki kesamaan tujuan, kepentingan, dan
berbagi aspirasi lainnya. Dalam proses pelepasan tersebut sehingga membentuk
kelompok lainnya individu terus beradaptasi. Di dalam kelompok,
masing-masing anggota berkomunikasi, saling berinteraksi, saling pengaruh
memengaruhi satu dengan lainnya.
Pergaulan dalam kelompok tersebut
memengaruhi dan menghasilkan kebiasaan-kebiasaan yang melembaga agi setiap
anggota kelompok, kebiasaan itu menciptakan pola perilaku yang dilakukan
terus-menerus. Perilaku yang sudah berpola-pola itu akan membentuk sikap
setiap anggota kelompok. Kebiasaan yang melembaga, perilaku, dan sikap
tersebut berjalan secara simultan di antara individu dan kelompok.
Lebih jauh lagi proses sosial
semacam ini oleh Berger dan Lukcmann katakan sebagai proses konstruksi sosial
yang terjadi secara simultan dalam tiga proses, yaitu eksternalisasi,
objektivasi, dan internalisasi. Sehingga pada tahap berikutnya individu
akan menginternalisasikan semua sikap dan perilaku yang diperoleh dari
kelompoknya dalam kehidupan pribadinya.
2. Lembaga (Pranata) Sosial
Lembaga (pranata) sosial adalah
sekumpulan tata aturan yang mengatur interaksi dan proses-proses sosial di
dalam masyarakat. Lembaga sosial memungkinkan setiap struktur dan fungsi
serta harapan-harapan setiap anggota dalam masyarakat dapat berjalan, dan
memenuhi harapan sebagaimana yang disepakati bersama. Dengan kata lain
lembaga sosial digunakan untuk menciptakan ketertiban (order).
Wujud konkret dari pranata sosial
adalah aturan, norma, adat istiadat dn semacamnya yang mengatur kebutuhan
masyarakat dan telah terinternalisasi dalam kehidupan manusia, dengan kata lain
pranata sosial adalah sistem norma yang telah melembaga atau menjadi
kelembagaan di suatu masyarakat. Misalnya, kebutuhan orang terhadap
penyembuhan penyakit, menghasilkan kedokteran, perdukunan, penyembuhan
alternatif. Kebutuhan manusia terhadap pendidikan bagi anggota
keluarganya, melahirkan pesanren, taman pendidikan bagi anggota keluarganya,
melahirkan pesantren, taman kanak-kanak, sekolah menengah, perguruan tinggi,
dan lainnya. Kebutuhan akan mata pencaharian, menimbulkan sistem mata pencaharian
pertanian, peternakan, koperasi, industri. Kebutuhan manusia terhadap
perkawinan, melahirkan sistem perkawinan dan keluarga. Kebutuhan akan
keindahan, menimbulkan kesusastraan, kesenian. Kebutuhan kesehatan
jasmani, menimbulkan lembaga pemeliharaan kesehatan, kedokteran kecantikan, dan
lainnya.
3.Stratifikasi Sosial (Social Stratification)
Stratifikasi atau strata sosial
adalah struktur sosial yang berlapis-lapis di dalam masyarakat. Lapisan
sosial menunjukkan bahwa masyarakat memiliki strata, mulai dari yang terendah
sampai yang paling tinggi. Secara fungional, lahirnya strata sosial ini
karena kebutuhan masyarakat terhadap sistem produksi yang dihasilkan oleh
masyarakat di setiap strata, di mana sistem produksi itu mendukung secara
fungsional masing-masing strata.
Menurut Pitirim Sorokim yang
dikutip dari Soekanto, Social Stratification adalah pembedaan penduduk dan
masyarakat ke dalam kelas-kelas sosial secara bertingkat (Soekanto,2002:228),
yaitu kelas-kelas tinggi dan kelas-kelas rendah. Setiap masyarakat selalu
mempunyai lapisan, mulai yang sederhana sampai yang rumit, tergantung dari
teknoogi yang dikuasai masyarakat tersebut. Dalam masyarakat yang
kompleks, maka perbedaan kedudukan dan peranan juga bersifat kompleks.
Secara umum, strata sosial di
masyarakat melahirkan kelas-kelas sosial yang terdiri dari tiga tingkatan,
yaitu atas (upper class), menengah (middle class), dan bawah (lower
class). Kelas atas mewakili kelompok elite di masyarakat yang jumlahnya
sangat terbatas. Kelas menengah mewakili kelompok profesional, kelompok
pekerja, wiraswastawan, pedagang, dan kelompok fungsional lainnya.
Sedangkan kelas bawah mewakili kelompok pekerja kasar, buruh harian, buruh
lepas, dan semacamnya. Secara khusus, kelas sosial ini terjadi pada
lingkungan-lingkungan khusus pada bidang tertentu sehingga content varian
strata sosial sangat spesifik berlaku pada lingkungan itu. Content varian
lebih banyak menyangkut varian strata dalam satu lingkungan yang membedakannya
dengan strata pada lingkungan lainnya. Jadi, apabila kelas sosial di
suatu lingkungan sosial menempati struktur strata yang paling tinggi belum
tentu kelas yang sama terjadi pada strata sosial lainnya di tempat lain pula.
Kelas sosial dengan strata sosial
tertentu adakalanya terbentuk dengan sendirinya, ada pula yang dibentuk
berdasarkan hukumnya. Strata kelas sosial yang terbentuk dengan
sendirinya adalah berdasarkan pada kepandaian, tingkat umur, sifat keaslian
keanggotaan kerabat, harta dalam batas-batas tertentu. Sedangkan strata
kelas sosial yang dibentuk berasarkan tujuan tertentu adalah seperti pemimpin
dan yang dipimpin, yang memiliki kekayaan dan yang tidak, dan yang memiliki
kekuasaan atau yang rakyat biasa.
Dasar pembentukan kelas sosial
adalah (a) ukuran kekayaan; (b) ukuran kepercayaan; (c) besaran kekuasaan; (d)
ukuran keselamatan; (e) ukuran ilmu pengetahuan dan pendidikan.
4.Mobilitas Sosial (Social Mobility)
Menurut Horton dan Hunt (Narwoko
dan uyanto, 2004:188) mobiitas sosial dapat diartikan sebagai suatu gerak
perpindahan dari suatu kelas ke kelas sosial lainnya. Mobilitas bisa
berupa peningkatan atau penurunan dalam segi status sosial dan (biasanya)
termasuk pula segi penghailan yang dapat dialami oleh beberapa individu atau
oleh keseluruhan anggota kelompok.
Pak Hartono adalah seorang
direktur pemasaran di sebuag perusahaan televisi swasta di Jakarta. Setip
harinya ia mengepalai departemennya yang terdiri dari 3 orang wakil direktur
dan 150 orang bawahan yang bekerja di lapangan. Selain diberikan fasilitas
mobil dinas dan asuransi kesehatan, pendapatn Hartono setiap bulannya mencapai
angka 15 juta rupiah. Sebuah angka yang cukup besar bagi seorang pegawai
seperti Pak Hartono yang belum nenamatkan pendidikan S1. pada bulan Juni
tahun 2005, dengan terpaksa pak hartono kehilangan pekerjaannya, perusahaannya
tak mampu lagi membayarnya karena Hartono dianggap tidak produktif oleh pemilik
perusahaan bahkan ia dpindahkan ke unit usaha lain di Yogyakarta.
Pada mulanya Hartono menolaj,
namun tidak ada pilihan lain selain PHK apabila ia tidak pindah ke
Yogyakarta. Satu bulan kemudian Pak Hartono memutuskan menerima tugas
barunya di Yogyakarta. Di Yogyakarta ia ditempatkan sebagai staf di
sebuah unit Asuransi yang ada hubunganya dengan perusahaannya dulu di Jakarta.
Sebagai anak muda, Hartono tetap berharap kalau suatu hari ia akan bekerja
lebih baik lagi untuk membesarkan perusahaannya.
Pada cerita lainnya, Pak Umar
adalah seorang kapten kapal yang ertugas menahkodai kapl dagang antarpulau dari
Surabaya ke Ambon. Pak Umar sudah bekerja di perusahaan pelayaran yang
memiliki kapal tersebut selama 5 tahun. Pada suatu hari karena perusahaan
membeli kapal baru, dengan tipe kapal yang sama dengan kapal yang sekarang
dinahkodai oleh Pak Umar, kapal yang baru ini diserahkan ke Pak Umar untuk
dinahkodai, karena perusahaan belum percaya kepada kapten kapal lainnya untuk
urusan-urusan yang masih baru seperti yang sekarang ini.
Kisah Hartono ini adalah sebuah
serita seseorang yang mengalami turun kelas sosial, dari seorang direktur menjadi
seorang staf di sebuah kantor atau perusahaan. Sedangkan cerita Pak Umar,
yang terjadi adalah sebuah proses mobilitas horizontal. Bahkan kisah yang
dapat kita saksikan di masyarakat bagaimana seseorang naik dan turun kelas dari
strata sosial, termasuk pula yang mengalami mobilitasi horizontal.
Dengan demikian, secara umum ada
tiga jenis mobilitas sosial, yaitu gerak sosial yang meningkat (socal
climbing), gerak sosial menurun (social sinking), dan gerak sosial
horizontal. Ketiga jenis mobilitas sosial ini dapat dialami oleh siapa
saja dan kapan saja sesuai dengan bagimana seseorang mengekpresikan lingkungan
sosial dan bagaimana lingkungan sosial mengekspresikan seseorang secara timbal
balik.
5.Kebudayaan
Kebudayaan (culture) adalah
produk dari seluruh rangkaian proses sosial yang dijalankan oleh manusia dalam
masyarakat dengan segala aktivitasnya. Dengan demikian, maka kebudayaan
adalah hasil nyata dari sebuah proses sosial yang dijalankan oleh manusia
bersama masyarakatnya.
Pernyataan di atas sejalan dengan
selo Sumarjan dan Soelaiman Sumardi, bahwa kebudayaan sebagai hasil karya, rasa
dan cipta masyarakat. (a) karya, masyarakat menghasilkan material culture
seperti teknologi dan karya-karya kebendaan atau budaya materi (fisik) yang
diperlukan oleh manusia untuk menguasai dan menundukan alam sekitarnya,
sehingga budaya yang besifat fisik ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. (b)
rasa, adalah spiriual culture (nonfisik) meliputi unsur mental dan kejiwaan
manusia. Rasa menghasilkan kaidah-kaidah, nilai-nilai sosial, hukum, dan
norma sosial atau yang dsebut dengan pranata sosial. Apa yang dihasilkan
rasa digunakan untuk mengatur masalah-masalah kemasyarakatan. Misalnya
agama, kesenian, ideologi, kebatinan dsb. (c) cipta merupakan immaterial
culture yanng menghasilkan pranata sosial, namun caipta yang menghasilkan
gagasan, berbagai teori, wawasan dan semacamnya yang bermanfaat bagi manusia.
(d) karsa adalah kemampuan untuk menempatkan karya, rasa, dan cipta, pada
tempatnya agar sesuai dengan kegunaan dan kepentingan bagi seluruh masyarakat.
Dengan demikian karsa adalah kecerdasan dalam menggunakan karya, rasa dan cipta
secara fungsional sehingga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat lebih bagi
manusia dan masyarakat secara luas.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
· Menurut
ilmu sosiologi, struktur sosial adalah tatanan atau susunan sosial yang
membentuk kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. Susunannya bisa vertikal
atau horizontal
· Bentuk
struktur sosial terdiri dari stratifikasi sosial dan diferensiasi sosial.
Masing-masing punya ciri tersendiri
B.
Saran
Dari
pembahasan makalah yang kami sajikan di atas, saran kami sebagai penyusun ialah
bharus bisa lebih baik dalam menjalani kehidupan masyarakat agar bisa menjadi
suatu perkumpulan masyarakat yang baik, dan harus memahami arti dari konflik.
DAFTAR
PUSTAKA
ente cari sendiri gan XD
mohon kritik dan sarannya gan ^_^